WAHYU SIGIT CRUENG, Pelukis dan Penggiat Agar Cat Air Bisa Naik Kelas

Memori saya melompat ke beberapa tahun silam, saat dimana saya teringat pertama kali diajarkan melukis dengan menggunakan cat air oleh guru kesenian. Itu yang sekilas terlintas saat melewati booth milik seorang pelukis bernama Wahyu Sigit Crueng, di Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2016, di Jatim Expo Surabaya beberapa hari lalu.

Wahyu Sigit Crueng, atau yang kerap dipanggil mas Sigit oleh beberapa orang yang kebetulan lewat di booth-nya malam itu, mengakui jatuh cinta kepada lukisan dengan media kertas dan cat air. Kebayang nggak sih, cat air adalah media lukis yang biasanya digunakan oleh siswa-siswi SD atau SMP, yang orang akan berpikir jauh kalau dibandingkan dengan lukisan-lukisan sekelas maestro. Tapi di tangan Wahyu Sigit Crueng, lukisan cat air pun sangat layak disandingkan dengan dengan lukisan-lukisan lain yang berbahan dasar acrilic atau cat minyak.

Awal mulanya, Sigit adalah seorang yang menekuni bisnis desain interior. Terkadang untuk menutupi space yang luang pada desainnya, dia memasukkan lukisan-lukisan cat air sebagai pemanis. Dengan banyaknya apresiasi terhadap karyanya itulah, yang kemudian memotori dirinya untuk terus lebih banyak berkarya.

"Melukis dengan cat air itu unik, karena dasarnya transparan, kalau salah kita tidak bisa memperbaikinya.", ujarnya.

Beda dengan melukis dengan menggunakan bahan acrylic atau cat minyak yang lebih solid, melukis dengan menggunakan cat air tidak bisa ditumpuk ketika salah. Atau hasilnya akan jauh dari ekspektasi. "Kalau salah ya sudah, bikin baru lagi," lanjutnya.

Pun membuat lukisan baru dengan sketsa yang lama, hasilnya tidak akan sama. Karena saat melukis dengan menggunakan cat air, seringkali ada rembesan yang bercampur dengan warna lain, yang kemudian tercipta warna baru yang lebih menarik. Hal ini jugalah yang membuat Sigit makin produktif untuk menciptakan karya-karya baru.

Pria yang tergabung dalam Komunitas Lukisan Cat Air Indonesia (KOLCAI) bagian Surabaya ini juga mengungkapkan, kalau dirinya ingin sekali membawa lukisan cat air ini ke kelas yang lebih tinggi. Dimana lukisan yang seringkali dianggap remeh dan murahan, bisa menjadi karya seni yang layak disandingkan dengan karya-karya kelas maestro dan mempunyai nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu hal yang dilakukannya adalah dengan meng-cover lukisan-lukisannya pada bingkai khusus dan terlihat lebih mewah.

"Bingkai untuk lukisan cat air ini saya buat khusus menjorok agak ke depan, dengan tujuan agar media kertas yang digunakan tidak langsung menempel ke tembok," dengan paduan lukisan yang indah, ditambah bingkai yang mewah, hal ini sukses menarik perhatian banyak pengunjung. Bahkan ada kejadian, saat Sigit sedang pulang, ada pesan Whatsapp yang masuk. Ternyata ada pengunjung yang tertarik dengan lukisannya, kemudian memotret dan mengirimkan ke Sigit untuk menanyakan harganya.

"Kebetulan memang saya pasang nomer Whatsapp di booth, jadi ada beberapa pengunjung yang tertarik kemudian mengirimkan gambar lukisan saya untuk ditanyakan harganya," imbuhnya sambil tertawa.

Untuk gaya lukisannya sendiri, pria brewokan lulusan Institut Seni Indonesia di Jogjakarta ini kerap menggunakan teknik perspektif dalam setiap lukisannya. Hal ini merupakan bentuk pengaplikasian dari materi kuliah yang pernah didapatnya.

Ilmu belum bisa dikatakan bermanfaat kalau belum ditularkan. Mungkin hal ini juga yang membuat pria yang memiliki hobi traveling ini sering mengadakan workshop di beberapa kota, termasuk di Surabaya. Dengan harapan lebih, bahwa akan semakin banyak orang yang serius menekuni seni lukis dengan menggunakan cat air. Selain itu, Sigit bersama dengan komunitasnya sering hunting spot melukis di beberapa lokasi menarik. Tidak hanya di Surabaya atau di Sidoarjo tempat tinggalnya. Bahkan di beberapa kota yang pernah disinggahinya, setiap ada lokasi menarik dia selalu mengambil sketch book dan palet cat air dari dalam ransel dan segera menggoreskan kuasnya. Hasil-hasil lukisannya bisa kalian stalking-in di akun instagramnya, @crueng.

"Enaknya lukis pakai cat air itu, perlengkapannya nggak terlalu ribet. Tinggal bawa sketch book dengan jenis kertas Artistico cold press, palet cat air yang hanya sebesar kotak rokok, kapanpun dimanapun ada spot menarik tinggal gambar," ungkapnya.

Menutup obrolan saya dengan mas Wahyu Sigit Crueng malam itu, dia juga berharap pada PSLI-PSLI berikutnya, akan lebih banyak booth-booth yang menampilkan karya seni lukis dengan media cat air. Sehingga lukisan cat air tidak lagi dipandang sebagai lukisan yang murahan dan hanya memiliki imej sebagai lukisan anak-anak SMP.

"Semoga tahun depan akan lebih banyak lagi booth-booth yang menampilkan karya seni lukis cat air," harapannya.